BANDARLAMPUNG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung menggandeng pemerintah daerah dan perusahaan swasta untuk mengatasi krisis regenerasi peternak. Lewat program Agri Future, sebanyak 50 peternak muda di Lampung Timur kini bisa mengakses pembiayaan dengan bunga 4 persen, lebih rendah dari bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Skema Kredit: Bayar Saat Panen, Bunga Hanya 4 Persen
Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy menjelaskan, dana kredit tidak langsung cair ke rekening peternak. Bank membekukan dana tersebut dan hanya mencairkannya langsung ke feedlot untuk pembelian bibit sapi dan pakan.
"Peternak tidak dituntut membayar angsuran setiap bulan. Pembayaran pokok dan bunga kredit menggunakan sistem yarnen (bayar panen), yaitu dipotong langsung dari hasil penjualan sapi ke pihak feedlot saat masa panen tiba," ujar Otto di Bandarlampung, Kamis.
Ekosistem dari Hulu ke Hilir: Bibit, Pakan, hingga Pembelian Kembali
Melalui kemitraan ini, peternak mendapatkan jaminan ekosistem yang jelas. Bibit sapi, pakan, hingga panduan perawatan menyeluruh disediakan oleh PT Great Giant Livestock. Setelah masa panen, sapi-sapi tersebut langsung dibeli kembali oleh perusahaan mitra.
Otto mencontohkan, pada proyek percontohan sebelumnya, ada anak muda usia 18-19 tahun yang mengambil kredit untuk 20 ekor sapi dan statusnya sudah lunas. "Kami ingin mendorong peternak muda usia sekitar 30 tahun, bahkan yang baru lulus SMA, untuk terlibat," katanya.
Target: Cegah Urbanisasi, Jaga Populasi Sapi Lokal
Lampung saat ini menduduki peringkat keempat nasional untuk populasi peternakan. OJK khawatir sektor ini menurun jika tidak ada regenerasi. Otto mengaku sudah meminta ketua komunitas peternak merangkul Karang Taruna agar anak muda tidak urbanisasi ke kota.
"Sukses juga bisa diraih di desa dengan menjadi peternak," ujarnya.
Rencana Ekspansi: Lampung Selatan Siapkan Skema Kombinasi Penggemukan dan Pembibitan
Melihat potensi keberhasilan skema penggemukan (fattening), OJK Lampung berencana memperluas program ke Lampung Selatan dengan menggandeng PT Juang Jaya. Berbeda dengan Lampung Timur, skema di sana akan mengombinasikan penggemukan dan pembibitan (breeding).
"Meski memiliki risiko lebih tinggi dan jangka waktu lebih panjang, skema pembibitan ini diharapkan menjaga ketersediaan indukan sapi lokal agar tidak tergerus sapi impor. Namun, untuk menjaga arus kas peternak, skema pembibitan tersebut akan tetap dikombinasikan dengan usaha penggemukan," tambah Otto.
Dukungan Teknologi: Aplikasi ERP untuk Atur Pakan, Vaksinasi, hingga Keuangan
Untuk mendukung pengelolaan yang profesional, OJK tengah menjajaki penerapan sistem Enterprise Resourcing Plan (ERP) bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO). Aplikasi ini sebelumnya sukses diterapkan untuk sapi perah di Malang, Jawa Timur.
Sistem ini akan mengatur jadwal pemberian pakan, vaksinasi, hingga pengelolaan keuangan peternak. "Kita ajarkan mereka untuk memisahkan antara omset dan keuntungan, sehingga keuangan mereka lebih tertata untuk perputaran modal selanjutnya," kata Otto.