LAMPUNG SELATAN — Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung bersama tim gabungan membongkar upaya pengiriman ilegal ratusan burung dari Sumatera menuju Pulau Jawa. Penindakan ini dilakukan di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni saat petugas melakukan pemeriksaan rutin terhadap kendaraan yang hendak menyeberang.
Kepala Karantina Lampung Donni Muksydayan menjelaskan bahwa pengungkapan bermula dari informasi intelijen mengenai adanya bus yang diduga mengangkut satwa liar. Petugas kemudian mencegat bus yang dicurigai pada Jumat malam sekitar pukul 21.00 WIB saat kendaraan tersebut berada dalam antrean penyeberangan.
Modus Pelaku: Burung Disembunyikan di Toilet dan Kabin Bus
"Ratusan burung tersebut ditemukan dalam kondisi memprihatinkan karena disembunyikan rapat di area toilet dan bagian belakang kabin bus guna menghindari pemeriksaan petugas," kata Donni Muksydayan dalam keterangannya, Jumat.
Hasil penggeledahan menunjukkan pelaku menggunakan ruang sempit di bagasi dan kabin untuk menumpuk 25 keranjang serta 25 dus berisi burung hidup. Kondisi sirkulasi udara yang buruk di tempat persembunyian tersebut mengancam nyawa ratusan satwa yang diangkut secara paksa.
Dari total 620 ekor burung yang disita, petugas menemukan berbagai jenis spesies, termasuk Jalak Kerbau sebanyak 220 ekor dan Ciblek 170 ekor. Terdapat pula jenis lain seperti Sikatan Rimba Dada Coklat, Kepodang, Poksai Mandarin, hingga Burung Madu Pengantin.
Dua Spesies Masuk Daftar Satwa Dilindungi
Petugas mengidentifikasi adanya dua ekor burung jenis Ekek Layongan dalam muatan ilegal tersebut. Jenis ini merupakan satwa yang statusnya dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Berdasarkan keterangan sopir bus, ratusan burung ini dimuat dari sebuah agen di Palembang sekitar pukul 15.00 WIB. Rencananya, satwa-satwa tersebut akan dikirimkan kepada seseorang berinisial Z di wilayah Jatiwarna, Bekasi Timur.
“Sopir mengaku menerima upah Rp2 juta untuk membawa seluruh burung itu ke Pulau Jawa,” ujar Donni menambahkan.
Ancaman Krisis Populasi Burung Liar Sumatera
Direktur Eksekutif FLIGHT Marison Guciano menilai bahwa aksi penyelundupan yang terus berulang menunjukkan tingginya tekanan terhadap populasi burung liar di Sumatera. Permintaan pasar burung kicau di Pulau Jawa menjadi motor utama perdagangan ilegal yang masif ini.
“Burung-burung Sumatera terus mendapatkan tekanan akibat skala perdagangan ilegal yang sangat masif sehingga mereka dihadapkan pada krisis populasi,” ungkap Marison.
Data FLIGHT mencatat sedikitnya 300 ribu burung asal Sumatera telah disita petugas dalam delapan tahun terakhir. Marison menyebut terdapat sekitar 11.100 toko burung dan 125 pasar burung di Pulau Jawa yang terus membutuhkan pasokan satwa secara ilegal untuk memenuhi permintaan hobiis.