BANDAR LAMPUNG — Manajemen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Ulubelu menegaskan bahwa guncangan gempa yang dirasakan masyarakat di wilayah Tanggamus baru-baru ini tidak bersumber dari aktivitas industri. Hasil pemantauan internal dan data seismik menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah bagian dari dinamika geologi di wilayah Sumatera.
General Manager PGE Area Ulubelu, Edy Sudarmadi, menjelaskan bahwa seluruh proses produksi, mulai dari tahap pengeboran hingga pemanfaatan uap panas bumi, telah mengikuti prosedur teknis yang tersertifikasi. Perusahaan menggunakan sistem mitigasi berbasis kajian geologi, geofisika, dan geokimia untuk menjaga stabilitas area operasional.
Mengapa Gempa Ulubelu Disebut Fenomena Tektonik Alami?
Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di kawasan Ulubelu dengan karakteristik gempa dangkal. Data menunjukkan bahwa sepanjang periode Januari hingga April 2026, telah terjadi sedikitnya 62 peristiwa kegempaan di wilayah Sumatera bagian selatan dan Selat Sunda dengan kekuatan bervariasi antara M1,3 hingga M4,7.
“Gempa yang terjadi merupakan fenomena alam yang dipengaruhi kondisi geologi Indonesia yang berada di jalur cincin api dunia dan dekat dengan zona patahan aktif. Hingga saat ini tidak terdapat indikasi bahwa aktivitas geothermal PGE menjadi penyebab gempa yang dirasakan masyarakat,” ujar Edy Sudarmadi dalam keterangan tertulisnya di Bandar Lampung, Rabu.
Kondisi tektonik di wilayah ini memang sangat dinamis karena dipengaruhi oleh tiga sistem utama: Zona Subduksi Sunda, Sesar Sumatera khususnya Segmen Semangko, serta aktivitas struktur geologi di sekitar Selat Sunda. Rentetan gempa kecil hingga menengah tersebut merupakan mekanisme alami pelepasan energi akibat pergeseran lempeng atau kerak bumi.
Teknologi Monitoring PGE Pastikan Operasional Berjalan Aman
Untuk memastikan keamanan lingkungan sekitar, PGE Area Ulubelu menyiagakan sistem monitoring mikro-seismik yang memantau getaran bawah tanah secara berkelanjutan. Teknologi ini memungkinkan tim teknis mendeteksi aktivitas sekecil apa pun di area kerja guna memastikan parameter operasional tetap berada di bawah ambang batas aman.
Edy menambahkan bahwa secara saintifik, energi yang dihasilkan dari proses ekstraksi panas bumi jauh lebih kecil dibandingkan dengan energi masif yang dilepaskan oleh gempa tektonik. Oleh karena itu, aktivitas geothermal tidak memiliki daya rusak atau pengaruh signifikan terhadap pemicuan gempa tektonik yang dirasakan oleh warga di permukaan.
“Kami pastikan gempa yang terjadi di Ulubelu tidak terkait dengan operasional panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Area Ulubelu. Perusahaan juga terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait serta melakukan pemantauan secara real time untuk memastikan seluruh proses produksi berjalan sesuai ketentuan," katanya lagi.
Pihak PGE mengimbau warga di Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Saat ini, seluruh fasilitas produksi di Ulubelu dilaporkan dalam kondisi andal dan tetap beroperasi normal untuk menyuplai kebutuhan energi bersih di wilayah Lampung dan sekitarnya.