LAMPUNG — Kepastian ini menjadi pukulan bagi skuad DR Kongo yang akan berlaga Rabu (1/7/2026) malam WIB. Mboladinga dikenal bukan sekadar penonton biasa. Sosoknya berdiri kaku seperti patung perunggu di tengah tribun, pose yang ia persembahkan untuk para pahlawan Afrika yang gugur. Absennya di laga krusial ini menghilangkan satu elemen spiritual yang selama turnamen ini menyertai perjalanan tim.
Ini bukan pertama kalinya "Lumumba Vea" gagal menyaksikan langsung aksi tim kebanggaannya. Pada laga pembuka melawan Portugal, ia sudah terhalang oleh pembatasan perjalanan terkait wabah Ebola yang melanda Afrika Tengah. Setelah itu, ia sempat hadir saat DR Kongo bertanding melawan Kolombia di Meksiko. Namun, ketika tim melaju ke Amerika Serikat untuk fase gugur, aturan perbatasan yang lebih ketat kembali menghadangnya.
Duta Besar DR Kongo untuk Washington, Kapinga Yvette Ngandu, buka suara soal nasib Mboladinga. Ia mengaku masih menyimpan secercah harapan. "Apabila tim nasional mampu melangkah lebih jauh di turnamen, mungkin ada peluang bagi Mboladinga untuk mendapatkan izin masuk," ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa proses diplomatik masih terus diupayakan di balik layar.
Aksi Mboladinga berdiri tegak tanpa bergeming di tengah riuh suporter DR Kongo menjadi magnet tersendiri di Piala Dunia 2026. Bukan sekadar atraksi, gerakan itu adalah bentuk penghormatan mendalam kepada para pendahulu bangsa Afrika yang telah berkorban. Tanpa kehadirannya, tribun pendukung DR Kongo di Atlanta dipastikan kehilangan satu ikon yang telah menyedot perhatian dunia.
Kepastian absennya Mboladinga menambah daftar panjang drama di luar lapangan yang mewarnai kiprah DR Kongo di turnamen ini. Sebelumnya, tim harus beradaptasi dengan jadwal padat dan perpindahan markas akibat kendala logistik. Kini, tanpa "patung hidup" mereka, semangat di tribun harus datang dari sumber lain.